sekolah

sekolah
sekolah

Rabu, 18 Mei 2011

"Jangan Gusur Sekolah Kami"

"Jangan gusur sekolah kami,
kenangan yang indah itu begitu terasa,
keakraban itu tak ingin sirna,
tolong sekali lagi,
jangan gusur sekolah kami..."

ITULAH cuplikan puisi yang disampaikan Claudia Jackline Christy (13) siswi kelas 7 SMP Salomo 1 yang dibacakan di sela-sela Forum Diskusi Peduli Pendidikan dengan tema Mencari Solusi Terbaik Menyelamatkan Sekolah Salomo, Senin (16/5) siang di halaman sekolah yang digelar oleh Lembaga Cegah Korupsi Indonesia (LCKI) Jawa Tengah itu.
Gadis yang juga warga Kampung Karangjangkang RT 5 RW 4 Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya jika membayangkan sekolah yang berdiri pada 1967 itu digusur.
"Jangan sampai sekolah ini digusur, namun jika memang terpaksa, ya diberi ganti lahan dan gedung yang lebih luas serta tidak jauh dari kampung saya," ujarnya.
Baginya, pendidikan harusnya lebih diutamakan ketimbang mengorbankan sekolah hanya untuk lahan parkir semata. Kenangan yang tak pernah terlupakan baginya, adalah sejak TK, SD hingga SMP jalinan keakraban dengan guru melebihi segala-galanya.
"Guru-guru disini, meski mereka mendapatkan gaji yang kecil, namun mereka bisa akrab baik dengan siswa maupun orang tua siswa. Ini yang jarang ditemukan di sekolah lain," paparnya.
Senada disampaikan Sisca (12) siswi kelas 6 SD Salomo. Rencana penggusuran itu telah membuat psikologis dirinya terganggu menjelang pelaksanaan ujian minggu lalu. "Saat ujian, saya dan teman-teman tidak bisa belajar maksimal," katanya.
Kedua siswi sekolah Salomo itu mengaku senang dengan adanya dukungan berbagai elemen masyarakat dalam rangka mempertahankan gedung sekolah itu. Bahkan, diskusi yang menghadirkan Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin itu memberi semangat kepada para siswa dan guru untuk terus melangsungkan proses belajar mengajar.
"Pendidikan bukan segala-galanya, tapi segala-galanya itu dimulai dari pendidikan. Pemerintah Kota Semarang akan mencari jalan terbaik bagi penyelesaian masalah ini," ujar Bunyamin disambut tepuk tangan siswa, guru serta tamu undangan yang hadir.
Ketua Umum LCKI Jateng Adhi Siswanto Wisnu Nugroho mengatakan, pihaknya bersama LSM lainnya akan terus mengawal proses hukum sengketa tanah antara Yayasan Salomo dan Yayasan Sam Poo Kong. Pihaknya juga menyayangkan jika dalam menunjang Visit Jateng 2013 harus mengorbankan pendidikan.
"Apabila memang tidak ada titik temu, relokasi diupayakan harus dekat dengan asalnya sekarang," tandasnya.

TULISAN (Muhammad Syukron/CN27).

SMA "Miskin" ISLAM SUDIRMAN Kembali Luluskan Siswa 100 Persen

Kudus, CyberNews. Prestasi membanggakan kembali diraih SMA Islam Sudirman di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo pada penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang diikutinya tahun ini. Untuk keempat kalinya secara berturut-turut, sekolah dengan 99 persen siswanya termasuk warga miskin tersebut lulus 100 persen.
Tak hanya itu, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan Sosiologi, hasil ujian siswa-siswa di tempat tersebut terbaik di Kota Keretek. Sedangkan untuk mata pelajaran Geografi dan Ekonomi masing-masing rangking 2, bahasa Inggris (rangking 4) dan Matematika (rangking 3).
Prestasi itu sangat bertolak belakang dengan kondisi fisik sekolah yang berada di tepi sawah dan sangat terbatas. Faktanya, walau harus belajar dengan fasilitas yang sangat apa adanya, mereka mampu bersaing dengan sekolah berbiaya mahal dan favorit di Kudus lainnya.
Kepala Sekolah, Musrifin, ketika ditemui CyberNews dengan merendah menyatakan semua itu dapat terjadi karena semangat siswa dalam mempersiapkan diri melalui proses pembelajaran panjang serta doa yang dilakukannya selama ini. Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi para pendidik di sekolahnya yang tidak pernah berhenti melakukan proses pembelajaran meski dengan fasilitas yang sangat mepet. "Kami sangat mensyukuri hal itu," katanya, Selasa (17/5).
Diakuinya, sebagian besar siswanya berasal dari kalangan tidak mampu. Musrifin secara terbuka menyatakan ada orang tua siswanya yang berprofesi sebagai pemulung, pedagang kelas "gurem" serta buruh kasar lainnya. Fakta lain menyatakan, akibat keterbatasan tersebut sebagian siswanya bahkan digratiskan dari biaya pendidikan selama mereka menuntut ilmu. "Kalau yatim piatu kami gratiskan, sedangkan untuk siswa yatim biayanya hanya 50 persen saja," paparnya.