sekolah

sekolah
sekolah

Senin, 23 Agustus 2010

SMA Muhammadiyah Tebing Tinggi Empat Lawang: Facebook

Sabuah Sekolah Swasta di Ibukota Kabupaten Empat Lawang yang baru ber Usia 3 tahun, Sekarang Sekolah ini sedang mengembangkan diri memacu murid yang jumlahnya baru 79 orang dengan 3 kelas dari tiga tingkatan jumlah yang belum signifikan dengan keinginan Amal Usaha Muhammadiyah, namun seluruh pengelola yang terlibat lansung (guru, Staff) terus berupaya untuk mengelola sekolah terutama terhadap perkembangan siswa dan daya juang alumnus agar lebih baik.

Jumat, 13 Agustus 2010

Senin, 09 Agustus 2010

Hitler Mati di Indonesia?

Judul Buku: Hitler Mati di Indonesia "Rahasia yang terkuak"
Penulis: Ir KGPH Soeryo Goeritno, Msc
Penerbit:Titik Media Publisher 2010
Halaman: 119

Kontroversi kematian Hitler memang menarik untuk diulas. Atas dasar itulah kira-kira buku ini dicetak untuk khalayak.

Bab Satu, Pendahuluan: Buku ini ditulis untuk mengungkap misteri kematian Hitler yang sebenarnya, itulah isi dari bab pendahuluan. Buku ini memang bukan merupakan buku sejarah, tetapi sebuah buku yang mengungkapkan sisi lain dari sejarah kelam yang dialami oleh bangsa Eropa, khususnya bangsa Jerman pada masa Perang Dunia ke 11 yang penuh dengan kekejaman yang pernah terjadi pada umat manusia.

Dari sekian banyak informasi yang ada tentang kematian Hitler, tidak ada yang dapat menyebutkan secara pasti apa penyebab kematian sang diktator Nazi ini. Versi yang paling populer menyebutkan bahwa Hitler tewas bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri dan minum racun sianida pada 30 April 1945, saat Jerman diduduki oleh Uni Soviet. Meski sejumlah ahli sejarah ragu Hitler menembak dirinya, dan menduga hal itu hanyalah propaganda Nazi untuk menjadikan Hitler sebagai pahlawan. Namun, lubang pada potongan tengkorak itu tampak menguatkan argumen tersebut ketika tengkorak itu dipamerkan di Moskow tahun 2000. Bagaimana dan kapan Hitler meninggal sekarang ini masih diselimuti misteri.

Bab Dua, Misteri Kematian Hitler: Pada bab ini dapat dijumpai penjelasan tentang penyebab dan kapan Hitler mati dari beberapa versi. Ada kematian versi Jerman, versi Rusia, dan versi para peneliti atau ilmuwan.

Dari sekian banyak informasi yang ada tentang kematian Hitler, tidak ada yang dapat menyebutkan secara pasti apa penyebab kematian sang diktator Nazi ini. Versi yang paling populer menyebutkan bahwa Hitler bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri dan minum racun sianida pada 30 April 1945, saat Jerman diduduki oleh Uni Soviet. Itu menurut versi Jerman, seperti yang diceritakan oleh Flegel, salah satu perawat Hitler dan petinggi Nazi lainnya saat di dalam bunker.

Dan menurut versi Rusia, yang dinyatakan oleh seorang pejabat tinggi dinas rahasia Rusia, KGB, yang mengklaim, bahwa Adolf Hitler mengakhiri hidupnya tidak dengan menembak dirinya sendiri, tetapi dengan meminum racun sianida. Seperti yang dinyatakan oleh Letnan Jenderal Vasily Khristoforov, staf arsip untuk dinas keamanan FSB Rusia, “Paramedia militer Uni Soviet kala itu telah memastikan bahwa Hitler dan Eva Braun tewas setelah minim racun sianida pada 30 April 1945.”

Dan versi kematian yang terakhir adalah menurut pendapat umum, dalam hal ini diwakili oleh para ilmuwan. Sudah lama sebenarnya para ilmuwan dan ahli sejarah menyatakan bahwa potongan tengkorak yang telah diambil dari luar bunker Hitler oleh tentara Rusia dan selama ini disimpan intelijen Soviet itu akan menjadi bukti yang meyakinkan bahwa menembak dirinya hingga tewas setelah minum pil sianida pada 30 April 1945. Akhirnya dilakukan analisis DNA terhadap potongan tengkorak itu oleh peneliti Amerika, dan mereka menyatakan, “kami tahu tengkorak itu berhubungan dengan seorang perempuan berusia antara 20 dan 40 tahun,” kata ahli arkelogi Nick Bellantoni dari Universitas Connecticut, AS, dikutip dari Dailymail. “Tulang itu kelihatan sangat tipis, tulang tengkorak laki-laki cenderung lebih kuat. Dan persambungan di mana lempengan tengkorak itu menyatu tampak berhubungan dengan seseorang yang berusia kurang dari 40 tahun. Hitler pada April 1945 berusia 56 tahun.

Dengan adanya hasil tes DNA tersebut, berarti sejarah kematian Hitler menjadi sebuah misteri kembali, dan para ahli teori konspirasi harus memikirkan kembali kemungkinan-kemungkinan lain tentang kematian Hitler, seperti mungkin saja Hitler tidak mati dalam bunker.

Bab Tiga, Sekilas Tentang Adolf Hitler: Mengenai masa kecil, masa remaja, sampai dengan ketika menjadi seorang diktator, dapat dilihat pada bab ini. Hitler kecil adalah seorang anak yang tertolak, ayahnya sangat membencinya dan mengenggap perilakunya yang “antisosial” sebagai sebuah kutukan. Ayahnya seorang yang keras dalam mendidik anak, sedang ibunya (Klara) sangat baik kepadanya. Masa kecil yang diliputi dengan kebencian dari ayahnya inilah yang memberikan andil besar dalam pembentukan mental dan kejiwaan Hitler saat dewasa.

Ketika hidupnya sulit, Perang Dunia 1 pun pecah. Tanpa ragu-ragu Hitler mendaftar menjadi tentara dengan pangkat Kopral, bertugas di medan perang di barisan paling depan. Kecewa dengan kekalahan Jerman di Perang Dunia 1, Hitler pun masuk menjadi Anggota Partai Buruh yang kemudian menjadi NSDAP (National Socialistische Deutsche Arbeiter Partei).

Tahun 1920, Hitler menjadi Kepala Bagian Propaganda, disinilah terlihat bakat Hitler di bidang pidato dan agitasi. Satu tahun kemudian, 1921, akhirnya Hitler menjadi ketua partai. Akhirnya pada tahun 1962 Hitler mendapatkan wewenang mutlak dari partainya. Dan Hitler adalah seorang orator ulung,”singa podium”, ahli pidato yang bisa menghipnotis massa pendengarnya. Hitler adalah politikus handal dan berhasil membangun pencitraan yang sukses melalui propaganda. Ia berhasil membangun opini menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang sukses melalui propaganda. Ia berhasil membangun opini menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang ditakuti. Ia juga berhasil membangun opini sebagai fuhrer atau pemimpin yang dapat dipercaya rakyatnya, membawa bangsanya ke puncak kejayaan.

Bab Empat, Bukti-Bukti Hitler di Indonesia: Di dalam bab empat ini, Anda bisa jumpai penjelasan mengenai, bagaimana caranya Hitler sampai ke Indonesia, bisa menjadi WNI, dan bekerja menjadi seorang dokter di Rumah Sakit Umum Sumbawa Besar, dan sampai dengan pertemuan Hitler dengan seorang wanita sunda yang akhirnya menjadi istrinya. Juga tentang kesaksian dr Sosro Husodo saat bertemu dengan Hitler ketika di Sumbawa Besar. Dan semuanya dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung serta foto-foto yang akurat.

Hitler yang terkenal sangat bengis di abad ke 20, ternyata bersembunyi di Indonesia sejak tahun 1954 sampai dengan tahun 1970, yang kemudian tercium oleh Sekutu (AS, Uni Sovyet, Inggris dan Prancis) yang selanjutnya diusut oleh Pemerintah Israel yang terus-menerus mengejar para tokoh Nazi.

Pada tahun 1954 Adolf Hitler masuk ke Indonesia dengan menggunakan nama palsu, dr Poch. Pada awalnya dr Poch tinggal di Dompu lalu pindah ke Bima, selanjutnya pindah ke Kabupaten Sumbawa Besar, kemudian bekerja menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sumbawa Besar. Seluruh penduduk pulau Sumbawa Besar. Seluruh penduduk pulau Sumbawa kenal dengan dokter ini, yang di panggil “dokter Jerman”.

Salah satu peninggalan Adolf Hitler meninggal pada tanggal 15 Januari 1970 di Surabaya, yaitu buku catatan kecil berwarna cokelat ukuran 9x16 cm dengan tebal 44 cm. Buku ini mempunyai arti yang sangat besar, karena merupakan bukti otentik yang menyatakan bahwa “dr Poch” adalah dewa-Nazi Adolf Hitler.

Kemudian Hitler bertemu dengan seorang gadis bernama Sulaesih yang sedang menggembara ke Sumbawa Besar, yang akhirnya dilamar oleh Hitler. Tidak lama setelah dr Poch melamar Sulaesih, beliau memeluk agama Islam pada tahun 1964, yang disaksikan oleh Ketua Kantor Agama di Sumbawa, (tapi sayang Sulaesih lupa namanya) dan mengganti namanya menjadi Abdul Kohar. Pada tahun 1965 Hitler pun menikahinya.

Bab Lima, Hitler Mati di Indonesia: Bab ini berisi tentang pengakuan Hitler kepada istrinya yang berasal dari Indonesia, Sulaesih, bahwa dia adalah memang Hitler yang sebenarnya, Der Fuhrer. Apa saja kegiatan Hitler sebelum dia meninggal. Di dalam bab ini juga terdapat pernyataan Stanlin, bahwa yang tewas di dalam bunker di Jerman bukanlah Hitler asli. Dan dibagian akhir ini menceritakan bagaimana akhirnya sang diktator itu meninggal di Indonesia.

Selama ini kematian Hitler memang sangat misterius, karena tidak ada saksi yang dapat menunjukkan dimana mayat Hitler ataupun mayat Eva Braun. Di Konferensi Postdam tahun 1945, Stanlin bahwa mayat Hitler dan Eva Braun tidak ditemukan. Stanlin menduga, dewa Nazi ini lolos dan melarikan diri ke Spanyol atau Amerika Latin. Dan tak berapa lama ada kabar yang mengatakan Hitler kabur menggunakan kapal selam ke sebuah pulau. Tapi tidak ada yang tahu pulau apa dan dimana. Dunia internasional sama sekali tidak menyadarinya bahwa seorang pemimpin Nazi yangn sangat kejam itu bersembunyi dengan aman di Sumbawa Besar, sampai meninggal di Surabaya dan dimakamkan di pemakaman umum muslim di Ngagel.

Bab Enam, Penutup: Kematian Diktator Jerman, Adolf Hitler yang diyakini tewas bunuh diri di sebuah bunker, pada tanggal 30 April 1945 di Berlin, tetap masih dipertanyakan dan menjadi misteri. Siapa yang menyaksikan peristiwa di bunker saat Hitler bunuh diri? Tidak ada, sumber cerita tersebut hanya dari mulut ke mulut. Dan pada saat itu, walaupun tidak ada saksi dan bukti yang jelas, pihak sekutu tetap mengumumkan secara resmi bahwa Hitler dan istri, Eva Braun telah meninggal. Bukan tidak mungkin Hitler mati di Indonesia. Karena Indonesia dianggap tempat yang aman, bagi Hitler. Silahkan siapa pun untuk menemukan jawaban yang sesungguhnya.

Selasa, 03 Agustus 2010

M Nuh: Beasiswa untuk Pengajar Bahasa Indonesia di China - Tribunnews.com

M Nuh: Beasiswa untuk Pengajar Bahasa Indonesia di China - Tribunnews.comMendiknas M Nuh berjanji akan memberikan beasiswa kepada tenaga pengajar pada institusi pendidikan di China yang mengajarkan Bahasa Indonesia. demikian dikatannya sebelum berangkat mengunjungi Shanghai International Studies University (SISU), Senin (2/8/2010) siang,.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mendorong pengenalan dan promosi Indonesia seutuhnya di China. Dijelaskan mantan Menkominfo pada Kabinet Indonesia Bersatu I ini, pengajaran Bahasa Indonesia oleh beberapa universitas di China tidak sekadar wujud dari perhatian China terhadap signifikansi Indonesia dari segi ilmu pengetahuan, tapi juga refleksi makin tingginya kepedulian masyarakat Tiongkok terhadap budaya dan perkembangan Indonesia di segala bidang.

"Karena itu, upaya pengajaran studi Indonesia tersebut akan mendapatkan perhatian dan dukungan khusus dari pihak pemerintah . Salah satunya dengan memberikan beasiswa bagi guru-guru di China yang mengajarkan Bahasa Indonesia untuk melanjutkan studi di tingkat master maupun doktoral di Indonesia. Ini dilakukan guna menjamin kualitas pengajaran yang baik dan standar," kata Nuh.

Mendiknas menekankan, peningkatan kerjasama antara kedua negara (Indonesia-China (red), adalah bagian dari Paradigma pergeseran kekuatan dan sumber-sumber ekonomi dan sosial budaya dunia dari Barat ke Timur, atau ke Asia, dimana China dan Indonesia sebagai motor.

"Itu sebabnya menjadi tanggung jawab moral dari generasi kini dan mendatang untuk memperkuat hubungan yang telah terjalin antara kedua bangsa melalui sejarah panjang yang dimulai dari sebelum abad ke-13," katanya.

Mantan Rektor ITS ini juga menjelaskan jika kementriannya menjamin sekaligus mendorong diintensifkannya kerjasama pengiriman dosen sebagai tenaga pengajar Bahasa Indonesia ke China, pertukaran guru,dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa China untuk belajar di Indonesia.

Sebaliknya, dari pihak Indonesia juga mengharapkan kerjasama untuk pengiriman guru Bahasa Mandarin yang berkualitas ke Indonesia dengan memperhatikan kebutuhan pengajaran bahasa tersebut.

Sriwijaya Post - Sungai Musi Sudah Tercemar

Sriwijaya Post - Sungai Musi Sudah Tercemar

EMPATLAWANG - Kabid Pengendalian dan Pencemaran Dampak Lingkungan Bapedalda Empatlawang, Rizal Effendi, Selasa (3/8) mengatakan, kondisi air Sungai Musi sekarang ini sudah tercemar kategori kelas II atau pencemaran sedang.

Hal ini merupakan hasil penelitian dan uji laboratorium bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Muaraenim. Oleh karena itu pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak membuang sampah ke dalam sungai.

"Kita akan memasang baliho di beberapa titik, terutama di wilayah pemukiman penduduk sekitar aliran sungai (DAS) yang berisi imbauan agar tidak membuang sampah ke dalam sungai," ujarnya.

Wiliem Wira Kusuma

Anak-anak yang Melampaui Usianya

Oleh: Ustadz Sulthan Hadi

Disebuah ruang sekolah dasar, seorang guru berdiri di depan kelas sedang mengajar murid-muridnya yang masih duduk di kelas tiga. Guru tersebut coba menerangkan keistimewaan dan urgensi shalat Shubuh kepada mereka. Dengan bahasa yang tertata baik dan metode penyampaian yang sempurna, sang guru berhasil menanamkan kesadaran ibadah pada murid-muridnya. Bahkan, seorang anak laki-laki diantara murid-murid itu, sangat tersentuh mendengar penjelasan indah tentang pentingnya shalat Shubuh berjemaah di mesjid, sehingga muncul rasa penasaran di hatinya. Terlebih anak kecil tersebut memang belum pernah sekalipun melakukan shalat Shubuh selama hidupnya, dan juga tidak melihat keluarganya melakukan itu.

Setelah kembali ke rumahnya, kata-kata gurunya tentang shalat Shubuh terus terngiang di telinganya. Ia kemudian berpikir mencari cara, bagaimana bisa bangun pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh. Lama ia berpikir, tapi tak ada solusi yang ia temukan kecuali harus berjaga sepanjang malam. Maka ia pun melakukan itu. Susah payah ia menahan kelopak matanya dimatanya itu, agar tidak terpejam. Tapi dengan usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bertemu dengan Shubuh.

Begitu suara adzan terdengar, segara ia berwudhu dan bersiap menuju masjid. Namun ketika membuka pintu, anak kecil itu terperangah. Kesulitan besar menghadang di depannya. Ia sadar bahwa masjid ternyata cukup jauh dari rumanhya, sementara di luar sana masih terlihat gelap dan sepi. Ia tak punya keberanian yang cukup untuk menembus kesunyian Shubuh yang berselimut kegelapan, dengan usianya yang masih delapan tahun. Akhirnya, ia teduduk di depan pintu dengan rasa kecewa yang dalam, dan dengan suara tangis yang tertahan, karena takut di ketahui dan di marahi orang tuanya.

Dalam balutan sedih dan kecewa, tiba-tiba anak tersebut mendengar suara langkah kaki melintas di jalan depan rumahnya. Buru-buru ia membuka pintu dan berlari pelan-pelan mendekati sumber suara. Riang bukan kepalang. Sebab ternyata, suara itu adalah langkah kaki dari kakek temannya bernama Ahmad, yang sedang berjalan menuju masjid. Dia pun segera mengikut di belakang kakek itu, perlahan dan tanpa suara, agar si kakek tidak mengetahuinya dan mengadukannya kepada ayahnya.

Hari berikutnya, anak ini selalu melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama. Setiap pagi ia bangun Shubuh, tanpa sepengetahuan seorangpun dari keluarganya, lalu berangkat ke masjid menunaikan shalat Shubuh, membuntut si kakek dengan langkah kaki ringan dan pelan agar tidak ketahuan. Akan tetapi kebersamaan abadi adalah hal yang mustahil. Beberapa bulan kemudian, si kakek meninggal.

Si bocah kecil tersebut pun tahu, dan berita kematian si kakek adalah duka yang mendalam baginya. Ia menangis. Terisak-isak. Sang ayah yang melihat perilaku anaknya, merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia lalu bertanya, “Nak, mengapa kamu menangis seperti itu. Kakek si Ahmad kan bukan anak kecil seusiamu yang kamu bisa bermain dengannya. Dia juga bukan kerabat kita sehingga kamu tidak perlu merasa kehilangan dia.”

Anak itu lalu menatap ayahnya, dengan air mata yang terus mengalir dan wajah yang tampak begitu sedih, seraya berkata “Andai saja yang mati itu adalah ayah, dan bukan kakek itu!”

Mendengar ucapan anaknya si ayah seperti tersambar petir. Ia kaget luar biasa. “Kenapa anak sekecil ini bisa berkata-kata seperti itu? Lalu kenapa ia mencintai si kakek sedemikian dalam?” pikirnya dalam hati. Anak itu lalu berkata, “Aku tidak merasa kehilangan karena dia teman mainku atau karena kerabatku, seperti yang ayah katakan.”

“Lalu kenapa?” tanya ayah penasaran.

“Karena shalat. Karena shalat,” tegas si anak.

Dengan suara serak dan berat ia mengajukan tanya, “Kenapa ayah tidak shalat Shubuh? Kenapa ayah tidak seperti kakek itu dan seperti orang-orang yang aku lihat itu?”

“Dimana kamu melihat mereka?” desak ayah itu.

“Di masjid,” jawab anak itu singkat.

“Bagaimana caranya kamu bisa melihat mereka?” tanya ayahnya lagi. Si anak pun lalu menceritakan pengalamannya selama ini yang setiap Shubuh selalu membuntuti si kakek. Hampir saja air mata si ayah tumpah mendengarkannya. Seketika ia peluk anaknya erat-erat. Cerita anak itu telah menjadi pelajaran sangat berharga bagi ayah, dan sejak itu ia tak pernah lagi menginggalkan shalat lima waktu berjemaah di masjid.

Kisah ini adalah potret nyata seorang anak kecil yang secara perilaku melampaui usianya. Ia denagn sebuah sentuhan kesadaran di jiwanya, dia telah melakukan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupannya, dan dalam kehidupan keluarganya. Dia telah berhasil mendakwahi orang tuanya. Dia telah sukses mengetuk kesadaran ayahnya untuk bangun pagi dan melaksanakan shalat. Dia telah menjadi da’I bagi segenap keluarganya, dengan caranya sendiri, dimana tugas itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa dan terpelajar. Karena itu, DR. Sa’ad Riyadh yang menceritakan kisah ini dalam bukunya Abaa’wa Abnaa’, memberi catatan penting: jangan kau remehkan kata-kata dari anakmu, sebab terkadang dari situlah awal perubahan dalam hidupmu.

Anak-anak itu sesungguhnya adalah miniatur manusia dewasa. Mereka memiliki semua perangkat manusia dewasa. Hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda. Meraka punya emosi. Mereka punya rasa. Merekapun punya hati, jiwa, dan akal sehingga mereka bisa tersentuh, bisa mencintai, bisa menyayangi, dan bisa bertanggung jawab, sebagaiman mereka juga bisa marah, kecewa dan bersedih. Pereangkat-perangka t kemanusiaan itu telah melekat dalam diri mereka, berkembang seiring dengan pertumbuhan usianya. Tapi di sebagian anak, perangkat-perangkat itu terkadang bekerja lebih cepat karena pengaruh dan desakan faktor-faktor tertentu dalam lingkungannya, sehingga seringkali kita menemukan ada diantara mereka yang bersikap, bertindak, berperilaku, berakhlak, dan berbicara melampaui usianya. Melakukan sesuatu yang tidak dilakukan anak-anak sebayanya. Mereka dewasa dalam usianya ynag masih kanak-kanak.

Mungkin kita masih ingat dengan bocah perempuan bernama Sinar yang beberapa waktu lalu yang beritanya sempat mengguncang perasaan kita. Bocah enam tahun itu, dengan cinta dan sayangnya rela mengabaikan masa kecilnya demi merawat si ibu yang sedang sakit.

Murni, nama ibu anak itu, mengalami lumpuh ketika suaminya sedang merantau ke Malaysia mencari nafkah. Jadilah Sinar yang membantu dan menemani ibunya, sendiri. Tubuhnya yang mungil dengan tenaga yang pasti tak seberapa, melakukan semua hal untuk urusan dan kebutuhan ibunya; memindahkan dan menggeser tubuhnya, memasak, member makan dan minum, memandikan, hingga membantu buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta.

Murid kelas satu sekolah dasar itu bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya ia persembahkan untuk ibunya yang sakit parah. Tayangan televise yang memberitakan aktivitas Sinar merawat ibunya, sanggup meruntuhkan air mata kita yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub pada sosok bocah kecil tersebut yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, menusap mesra pipi ibunya.

Nan jauh disana, dinegri tirai bambu, ada sosok Tse Tse yang setiap hari menyuapi, menyeka muka, dan memijit tubuh ayahnya, Xiong Chun, yang lumpuh.

Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang juga seusia Sinar itu terpaksa ikut memikul tanggung jawab rumah tangga yang tidak ringan. Selain setiap hari mengurusi ayahnya, Tse Tse juga membantu ibunya memungut dan mengumpulkan botol air mineral bekas, sebagai tambahan pendapatan keluarga.

Dua bocah kecil ini: Sinar yang tinggal di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dan Tse Tse di Jiangsu, China, dalam kisah mereka masing-masing sekali lagi memberikan kita contoh akan anak-anak kecil yang melampaui usianya. Dan jika kita perhatikan kisah keduanya maka ada satu keadaan yang sama pada diri mereka yang kemudian memaksa mereka untuk mengambil tanggung jawab dan peran-peran besar di luar usia mereka, yang mempercepat kematangan perangkat-perangkat tertentu dalam diri keduanya. Keadaan itu adalah beban dan kesulitan yang menimpa kehidupan keluarga mereka.

Memang, beban kehidupan menjadi faktor dominan yang kerap kali mengubah keadaan seorang anak. Ketika sebuah tanggung jawab yang seharusnya yang di pikul oleh dewasa, namun ternyata orang dewasa itu tak ada di sisi mereka, maka saat itulah mereka akan berusaha dengan cara dan kemampuan mereka sendiri untuk mengambil alih tanggung jawab. Sinar, misalnya walaupun ia memiliki 5 orang kakak, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga. Sehingga Sinar tidak bisa mengadukan keadaan ibunya kepada kakak-kakaknya itu.

Tentu beban dan kesulitan bukan satu-satunya faktor yang membuat seorang anak lebih cepat dewasa dari usianya. Sebab seperti yang sudah di sebutkan diatas, anak-anak memiliki perangkat-perangkat kemanusiaan seperti yang dimiliki umumnya orang-orang dewasa. Sentuhan kesadaran, kedalaman pengetahuan, semangat dan motivasi cinta dan kasih sayang, semuanya bisa menjadi energi bagi seorang anak untuk melakukan sesuatu yang melampaui usianya, dengan tetap pada karakter, keluguannya, dan kelucuannya sebagai anak-anak.

Hasan dan Husein RA cucu Rasulullah SAW pernah mengajari seorang tua yang belum tahu cara berwudhu yang benar. Karena kala itu keduanya masih kanak-kanak, mereka takut mengajarinya secara langsung. Keduanya lalu mencari cara, yaitu dengan saling bicara, dengan suara keras. Salah seorang dari mereka berkata, “Wudhuku lebih baik dari wudhumu.” Yang lain berkata “Tidak, wudhuku lebih baik darimu.” Lalu mereka bersepakat untuk meminta orang tua itu yang menilai wudhu siapa yang lebih baik. Maka mereka berwudhu dengan cara yang sempurna di hadapan orang tua tersebut. Setelah melihat wudhu kedua anak tersebut, dengan firasatnya orang tua itu paham bagaimana cara berwudhu yang benar dan sadar bahwa mereka bermaksud mengajarinya.

Imam Asy Syafi’i rahimakullah, telah diizinkan berfatwa pada saat usianya lima belas tahun. Sebuah kehormatan yang tak di berikan kecuali kepada orang yang memiliki kematangan ilmu dan emosi. Sehingga semua tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang telah melampaui usianya.

Di sekitar kita, tentu ada banyak anak-anak seperti pada sebagian kisah diatas; mengambil sebuah tanggung jawab dan peran yang melampaui usianya. Ada yang berjibaku mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarganya. Ada yang berperan sebagai pemimpin dan pembimbing untuk adik-adiknya yang ditinggal orang tua. Ada yang tak lelah berjuang dan tak berputus asa mengejar cita-cita, meski hidup dalam keterbatasan.

Dan pada edisi ini, sebagian dari mereka kita hadirkan disini. Kita berbicara tentang mereka, mengenal diri dan cerita mereka. Agar kita tidak mengecilkan perjuangan hidup mereka, dan agar kita memiliki kepedulian untuk meringankan beban hidup mereka serta tidak lupa belajar dan bercermin, bahwa ternyata anak kecil saja mampu, sedang kita hanya bisa diam atau lebih banyak mengeluhkan keadaan dari pada berjuang menyelesaikannya.

Senin, 02 Agustus 2010

LIPI Seleksi 25 Guru Jenius - Tribunnews.com

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hari ini, Senin (2/8/2010), menyeleksi sebanyak 25 guru jenius yang telah berhasil mempersembahkan hasil karya penelitiannya bagi masyarakat. Mereka tidak hanya piawai mengajar di bidangnya, melainkan juga mampu meluangkan waktu menganalisa serta meneliti sesuatu yang layak mendapatkan apresiasi.

Deddy Setiapermana, Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan IPTEK (BKPI-LIPI) mengatakan, 25 guru yang merupakan finalis ajang Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) ke-18 yang digelar LIPI bekerjasama dengan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera tersebut terbagi menjadi lima kelompok tingkatan sesuai dengan tingkat sekolah tempat mereka mengajar.

Lima kelompok tersebut yaitu satu kelompok guru tingkat Sekolah Dasar, dua kelompok guru SMP yang terbagi dalam MIPATEK (Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi) serta IPSK (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan), serta dua kelompok guru SMA yang juga terbagi dalam MIPATEK dan IPSK.

"Ada lima Finalis untuk kelompok SD, sepuluh finalis untuk SMP yang terbagi jadi dua kelompok yakni MIPATEK dan IPSK, serta sepuluh finalis SMA yang juga terbagi dua kelompok," ujar Deddy.

Dalam ajang tahunan yang dikhususkan bagi para guru yang mengajar pada lembaga formal tersebut, para guru jenius dituntut untuk mempresentasikan karya penelitiannya di depan dewan juri LIPI yang nantinya akan mengambil tiga urutan pemenang yang dinilai paling hebat. Untuk urutan pertama, LIPI menyediakan hadiah senilai 12 juta rupiah. Sementara pemenang kedua dan ketiga masing-masing mendapatkan 10 juta dan 8 juta rupiah.

Risiko Bencana Masuk Kurikulum Sekolah - Tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sesuai surat edaran Mendiknas 2010, pengetahuan pengurangan risiko bencana dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Hal itu sebagai bentuk kerjasama antara Kemendiknas dengan United Nations Development Programme (UNDP).

Hal itu menjadi kebijakan nasional dan dituangkan melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/SE/MPN/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah. Sosialisasi Surat Edaran Mendiknas ini telah dimulai Kamis kemarin di gedung Ditjen Dikti Jakarta.

Acara ini dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Seluruh Indonesia, Perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari provinsi Sumatera Barat, DIY, dan kota Palu, United Nations Development Programme (UNDP), Pusat Kurikulum, Kementerian Agama, Kementeria Riset dan Teknologi, LIPI, Kementerian Kesehatan, dan lembaga pemerintah terkait lainnya serta beberapa perwakilan dari lembaga donor seperti DFID, GTZ, Aus-AID, European Commision, Ford Foundation, UASID, JICA dan lainnya.

Kerjasama ini dimaksudkan untuk menumbuhkan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam sistem pendidikan nasional. Dalam rangka pengurusutamaan tersebut, dirjen mandikdasmen membentuk gugus tugas yang keanggotaannya mewakili keterlibatan berbagai institusi pemerintah berasal dari kementerian dan atau instansi lain.

Sekretaris Dirjen Mandikdasmen, Bambang Indriyanto menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan kampanye dunia dalam mewujudkan 1 juta sekolah dan rumah sakit aman di dunia. Program ini bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia dalam membangun masyarakat yang lebih aman terhadap bencana.

UNDP melalui program SCDRR telah melakukan dukungan kepada 9 sekolah di 3 kabupaten/kota (Bengkulu, Bantul dan Palu) untuk membentuk sekolah model siaga bencana. Demikian dirilis kemendiknas, Jumat (30/7).

Sekolah-sekolah tersebut diberi dana hibah yang digunakan untuk menyusun peta risiko bencana di sekolah, latihan simulasi bencana, perbaikan infrastruktur sekolah, membangun sistem peringatan dini di sekolah, serta penyusunan rencana kontingensi sekolah. (*)

Minggu, 01 Agustus 2010

Sungai Buayo Tebing Tinggi

sungai Buaya dan suku kubu
Bagikan
Minggu, hari itu, dengan sepeda motor, jalan jalan di jalan rintisan Tebing Tinggi - Pendopo. jalan masih lengket maklum masih berstatus rintisan cukup lebar dan masih kelihatan bekas-bekas alat berat, karena takut terglincir belok kanan putar haluan.
Ingat ada jalan setapak yang sering dilalui, lewat saja sana, jalan setapak ini merupakan jalan tembus menuju perumnas Griya sejahtera. becek memang tapi tidak lengket dan licin.karena masih ditumbuhi rumput pendek. maklum belum ada rintisan untuk dijadikan jalan umum. Ada banyak pohon Melinjo yang berjajar rapi,
Sambil terus jalan di atas sepeda motor berpapasan dengan seseorang, tanpaknya pemilik kebun melinjo, ia menyapa, "kemana ?.." saya memang sudah mengenalnya. saya jawab saja "kesana" dengan mengacungkan tangan kiri, "awas hati hati ada orang kubu disitu" seraya menunjuk searah dengan acungan tangan saya.
penasaran, pengen lihat tancap gas saja. benar saja ada sekitar sepuluh keluarga kubu di situ, dengan berbagai macam activitas. memasak menyiapkan tempat istirahat, membuat api semua dilakukan perempuan. yang laki-laki sibuk dengan mencari perbekalan untuk dimakan di sore ini dan malam ada yang sudah mendapat beberapa ikan gabus sebesar lengan. yang ditangkap dengan menggunakan sampit dari bambu.
Sekitar empat pria tampak sedang mengacungkan tombak keatas sekitar 45 derajat, siap untuk dilempar, beberapa kali melihat kearah sasaran di air. hup tombak dilempar oleh 4 pria ke atas setelah tombak menghujam ke air ke 4 pria tadi menuju ke arah tombak terhujam.
benar saja 3 tombak mengenai sasaran, ternyata bukan ikan melainkan kura-kura 3 tombak mengenai sasaran satu tombak hanya tertancap di dalam air lumayan untuk makan kata mereka.
Sayang saya tidak berani mengajak mereka bicara lebih banyak. dan bertanya banyak hal. kecuali mengamati prilaku mereka kurang lebih setengah jam.
Perburuan mereka belum berahir. ternyata masih banyak kura-kura dapat mereka buru. perburuan selesai setelah tidak kurang dari 20 ekor kura-kura didapat. selain itu mereka juga memasang perangkapikan lumayan banyak sekitar setangah karung goni mereka dapatkan.
Pemillik kebun melinjo memanggil nama saya. melambaikan tangan. "kesini" katanya saya menuju kearahnya dia berbisik. "cepat pulang jangan terlalu lama dengan mereka." anjuran mungkin berdasarkan pengalaman. pulang...???